Jumat, 14 Agustus 2009

independence day

Lomba gerak jalan, karnaval, setiap pelataran kantor dipenuhi umbul-umbul dan bendera dengan nuansa sudah pasti merah putih terlihat semarak menghiasi suasana kota Biak Papua. Warna merah putih? Iya.. baru nyadar. Ternyata saya masih di Indonesia, he he. Indonesia bagian timur paling ujung utara timur, kira-kira deket sama Honolulu lah. Klo inget gerak jalan dan karnaval jadi inget jaman SD dan SMP di kampung asal dulu. Lomba gerak jalan sejauh +/- 7km, dari Tuk Songo sampe Lapangan Jatirejo. Nafas ngos2an ditonton banyak orang. Kemudian karnaval warna-warni, masih inget jaman SD dulu saya pakai pakaian dokter. Menandakan cita-cita masa kecil, yg sekarang tidak kesampaian, he he. Dan berbagai macam atribut yang beraneka ragam dan membuat geli sendiri apabila mengingatnya. Itu terjadi kira-kira sekitar Tahun 1985-1990. Lumayan jadul lah. Dan di Biak ini, saya melihat hal yang sama. Sekarang di Tahun 2009. Rentang waktu yang cuku panjang. Sekitar 20 tahun. So apa kesimpulannya. Apakah kondisi di Biak (baca: Papua secara umum) itu sama dengan kondisi Jawa di era 20 tahun yang lalu? Mungkin terlalu naif untuk menyimpulkan itu. Terlalu mudah kesimpulan seperti itu, apabila cuma menjadikan keberadaan kegiatan seperti itu hanya sebagai satu2nya ukuran perbandingan. Namun mungkin kita bisa tengok apa yang bisa dilihat-lihat dari kondisi Papua saat ini secara umum. Kondisi pelayanan kesehatan, pendidikan, baik menyangkut kualitasnya maupun sarana prasarananya, dan banyak indikator sosial lainnya memang terasa masih sangat kurang layak. Kenapa bisa terjadi demikian? Terus terang begitu saya menginjakkan kaki disini, terasa sangat berbeda nuansanya. Wilayah Papua ini memang seperti dianaktirikan dalam pembangunannya oleh pemerintah pusat. Benar atau tidaknya saya sendiri juga tidak tahu, tapi paling tidak kesan itulah yang bisa saya dapati setelah beberapa bulan hidup berada di tengah-tengah lingkungan di sini. Saya berpikir mungkin sih tidak juga cuma menyalahkan pemerintah pusat saja. Pemerintah daerah dan masyarakat setempat juga seyogyanya ikut bertanggung jawab terhadap kondisi ini. Pemikiran saya ini terlintas sebentar dari benak saya ketika saya mengamati perjalanan para peserta karnaval, yang berefek pada macetnya jalan di kota biak (jangan dibayangkan seperti macetnya Jakarta). Sambil berpikir, ternyata Biak jalannya bisa macet juga ya...?

Selasa, 11 Agustus 2009

time is running

Waktu terus berjalan. Nggak terasa sudah hampir delapan bulan saya di sini. Berada di sebuah kota kecil di pulau kecil yang namanya pun saya baru tahu kemaren akhir 2008 ketika keluar skep yang cukup menghebohkan itu. Emang bener apa yang dinyatakan dalam sebuah ebook Motivasi-nya Andi Muzaki. Bahwa dengan manajemen waktu yang optimal, kita bisa melakukan hal-hal dalam hidup ini secara efektif. Segala sesuatunya harus didasarkan pada skala prioritas, berusaha melaksanakan hal-hal yang penting lebih dahulu daripada hal-hal yang kadar pentingnya dibawahnya. Berkaitan dengan manajemen waktu, seorang dosen memberikan ilustrasi begini. Sebuah ember diisi dengan batu besar yang cukup banyak sampai ke bibir ember. Ketika ditanya apakah sudah penuh, mahasiswa menjawab sudah. Padahal ternyata masih bisa diisi lagi dengan kerikil yang cukup banyak. Ketika ditanya lagi, apakah sudah penuh, sebagian mahasiswa menjawab sebagian sudah sebagian belum. Sang dosen mengambil pasir dan kemudian mulai mengisikan ember tersebut dengan pasir sampai ke bibir ember. Mahasiswa ditanya lagi, sudah penuh apa belum, jawabannya belum. Sang dosen pun segera mengisi ember tersebut dengan air bersih, kali ini sampai luber keluar dari bibir ember. Kemudian sang dosen bertanya pada mahasiswanya, apa penjelasan dari ilustrasi tersebut. ada mahasiswa meberanikan diri menjawab, bahwa walaupun sesibuk apapun kita, kita harus bisa memanfaatkan waktu kita dengan sebaik-baiknya. Ternyata jawaban dosen bukan itu. Kembali ke manajemen waktu, untuk memasukkan kesemua benda tadi, kita harus mulai dari "batu besar" terlebih dahulu. Apabila kita tidak memasukkan "batu besar" terlebih dahulu ke dalam ember tersebut, maka kita tidak akan bisa memasukkan semuanya. Apa yang dimaksud "batu besar" dalam hidup kita? Batu besar dalam hidup kita adalah keluarga kita, anak istri kita, pendidikan kita, pekerjaan kita, dan hal-hal penting lainnya dalam hidup kita. Bila kita mengisi hidup kita dengan "kerikil" dan "pasir", maka hidup kita akan dipusingkan oleh hal-hal yang merisaukan dan tidak ada gunanya. Oleh karena itu marilah kita untuk selalu berfikir setiap kali, barangkali dengan setiap malam sebelum tidur, memikirkan "batu besar" apakah yang hari ini dan esok yang kita harus terlebih dahlu lakukan. Jawabannya ada pada diri kita sendiri...

Rabu, 11 Februari 2009

comeback

lebih dari setengah tahun gak nulis. sibuk sih enggak, dibilang males juga enggak. lebih tepatnya mungkin 'not in the mood' aja. bad mood atau semacam itu. saya menyadari kelemahan saya memang disini, sering mengerjakan sesuatu hanya kalau pas mood-nya bagus saja, kalo pas mood nya gak bagus ya mendingan lebih memilih yang laen. buat para penggemar tulisan saya (he he sok ada aja..) sabar ya .., setelah ini nanti saya bakal punya banyak waktu untuk menulis. ok
sent from biakberry
powered by biakcom core 2 duo

Jumat, 13 Juni 2008

ortu2


Manusia boleh berencana, tapi Alloh-lah yang menentukan. Setibanya di Jakarta, bapak ibu berencana istirahat di rumah Jakarta, guna persiapan esok harinya naik pesawat. Ternyata ada Sodara yang tahu bahwa bapak ibu sendirian (tanpa aku) di Jakarta, keduanya langsung dijemput supaya istirahat di rumahnya saja. Adalah di Rofiudin, putrane Lek Ar Jatirejo, yang jemput ke rumah supaya istirahat di rumahnya Arif saja. Sebelumnya bapak ibu telpon aku dulu, minta pertimbangan. Aku bilang "sak monggo, sing penting mboten telat pesawate". Jadilah bapak ibu nginep di rumahnya Arif, sodara yang sukses jadi juragan ayam potong, di rumahnya yang super mewah nan nyaman di sekitar kampung makasar Halim PK (katanya sebelahan sama rumahnya Tarzan pelawak srimulat itu). Esoknya jam sebelas lewat, bapak ibu dianterin sama dik Din lagi, ke Cengkareng lewat jalur lain. Aku bilang jangan mepet2 waktunya takut macet, ntar malah telat check-innya. Perjalanan lancar dan sesampainya di Bandara ternyata waktunya masih agak lama, akhirnya daripada lama-lama nunggu di dalam bandara, dik Din ngajak bapak ibu mampir makan dulu di restoran dekat bandara. Tadinya bapak ibu nggak mau, tapi akhirya mau tapi dengan catatan cuma sebentar saja. Abis itu itu, lanjut masuk ke bandara, para porter sudah menunggu untuk membantu untuk mengangkut barang bawaan yang cukup banyak. Alhamdulilah si porter baik, dia membantu juga menunjukkan dimana loket chek-in nya, dibantu sampai proses check-in selesai boarding pas dicetak. (bersambung)

ortu


Ridhoullohu bi ridhol walidain. Allohumagh firli waliwaalidayya warhamhuma kama rabbaya ni soghiiroo. Ridho Alloh SWT tergantung dari ridho orang tua. Ya Alloh, ampunlah kedua orang tua dan rahmatilah keduanya sebagaimana mereka mengasuhku di waktu kecil. Dan lain-lain banyak sekali kewajiban yang harus kita lakukan kepada kedua orang tua kita. Ketika diberitahu bahwa kedua orang tua saya mau datang, saya mengucap syukur alhamdulillah. Bahwa Alloh SWT masih memberikan kesehatan kepada keduanya sehingga masih dikaruniai kemampuan untuk dapat melakukan perjalanan yang cukup jauh dengan paling tidak menggunakan dua moda angkutan, naik bus dan pesawat. Saya berfikir, kalo naik bus mungkin beliau berdua sudah biasa. Tapi kalo naik pesawat dengan ngurus akomodasi sendiri, mungkin baru kali ini. Terakhir kali naik pesawat mereka berdua ya pas naik haji itu. Kalo naik haji kan tinggal jalan aja, sudah ada petugas yang ngurus, jamaah haji tinggal konsentrasi ngurusin barangnya sendiri saja, akomodasi sudah diurus oleh petugas haji bagian akomodasi secara kolektif. Saya cuma mikir, gimana ya caranya supaya mempermudah beliau berdua dalam proses akomodasi di bandara Cengkareng yang terkenal agak ruwet apalagi bagi orang baru yang belum tahu seperti kedua orang tuaku. Akhirnya aku mengambil langkah dengan membelikan tiket by internet, sebuah maskapai negeri jiran yang akhir-akhir ini saya simpulkan paling profesional daripada yang lain. Untuk lebih memudahkannya, saya kirim lewat pos ditambahin surat penjelasan skenario dari mulai berangkat sampai ke jakarta trus kemudian ke Cengkareng. Dari hasil telpon terakhir, disepakati bahwa akhirnya supaya tidak terlalu capek, bapak ibu akan mampir ke rumah di Jakarta dulu, istirahat sehari, baru lanjut naik pesawat hari berikutnya. Dalam surat aku jelasin panjang lebar, sedetail mungkin bagaimana proses check-in, caranya, posisi, arah dan lokasinya,apa saja yang harus disiapkan, setelah check in trus kemana, bayar airport tax dan sebagainya. (bersambung)

Rabu, 11 Juni 2008

fya-keyla






Kedua anakku ini memang menjadi 'hiburan' yang menyegarkan bagi kami, saya dan istri. Capek pulang dari kerja, melihat tingkah polah mereka sejenak, bercanda ria, dalam sekejap rasanya capek langsung hilang. Fya sudah mulai banyak pertanyaan-pertanyaan, rasa ingin tahunya besar, segalanya ditanyain. Saya dan istri harus siap dengan jawaban yang sedapat mungkin bernilai tapi menghibur buat dirinya. Dengan bahasanya Fya sering menyanyi, 'Oo oo kamu ketahuan' (sempat diprotes sama neneknya). Hoby yang memang saya perkirakan karena efek salah satunya dari bebunyian musik yang kami perdengarkan sejak dari bayi. Sementara Keyla sekarang sedang 'sibuk-sibuk'nya dalam 'usaha'nya untuk belajar berdiri, jalan pelan-pelan, sambil tertawa kalo digodain. Syukur alhamdulillah kedua anakku (dan kami) senantiasa diberikan nikmat kesehatan oleh Alloh SWT. Keberadaan istri dan anak-anakku tercinta sangat melengkapi hidup ini. Puji syukur alhamdulillah.

barakah


Alloh selalu mengetahui apa yang diinginkan hamba-Nya. Dan sepanjang kita selalu berdoa, memohon kepada-Nya, Dia akan selalu mengabulkan apa yang kita minta itu sering tidak kita sadari. Mungkin memang waktunya tidak seperti yang kita maui, tidak pas dengan yang kita mau kapan, tetapi yang perlu kita pahami adalah bahwa sebenarnya yang tahu paling tepat kapan waktunya kita diberi karunia ya hanya Dia yang Maha Tahu. Alloh akan selalu memberikan apa yang kita minta, pada takaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan kita. Perlu diingat bahwa Alloh memberikan ujian kepada setiap manusia sesuai dengan batas kemampuannya. Artinya ujian yang diberikan Alloh pasti tidak akan melebihi kemampuan si manusia. Yang pasti kita harus selalu dan selalu tabah, tawakal dan ikhtiar serta terus berdoa kepada Alloh atas segala ujian yang diberikan kepada kita. Terkadang kita hanya berfikir bahwa ujian dari Alloh itu adalah yang nggak enak saja. Sebenarnya 'kenikmatan dunia' ini adalah ujian juga. Kalo bisa memanfaatkan apa yang sudah dikarunia Alloh pada jalan yang benar, berarti kita sudah bisa melalui ujian dari Alloh tersebut dengan sukses. Memanfaatkan rezeki yang kita peroleh untuk menafkahi anak istri, membantu orang tua, menyantuni orang miskin, dan lainnya. Dan jangan lupa zakat tentunya. Insya Alloh kita akan mendapat yang namanya Barakah. Aaamin.